Tujuan: untuk meneliti pemberian daun kelor terhadap produksi ASI. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan case control. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak kelompok kasus 16 orang dan kelompok control 16 orang.
DiIndonesia terdapat banyak tanaman yang dapat melancarkan ASI, diantaranya daun katuk, daun kelor, buah papaya muda, bangun-bangun, dan klabet. Potensi Tanaman Lokal sebagai Galaktagogue Herbal untuk Meningkatkan Produksi ASI.Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 104 - 112.
DaunKelor pada konsentrasi 10%, 20 %, dan 40% dapat meningkatkan produksi ASI pada mencit. Rebusan Daun Kelor dengan konsentrasi 40% menunjukkan efek yang optimal. Kata Kunci : Daun Kelor, Produksi ASI, Mencit PENDAHULUAN Perkembangan kecerdasan anak sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan
Sejakjaman dahulu tanaman kelor sudah ada, tanaman ini menyimpan segudang manfaat, salah satunya dapat meningkatkan produksi ASI bagi ibu yang baru melahirkan, kelor mengandung Fe 5,49 mg/100g dan juga fito-sterol yakni sitosterol 1,15%/100 g dan stigmasterol 1,52%/100 g yang dapat merangsang peningkatan produksi ASI.
Hasil: Rata-rata kuantitas air susu ibu (ASI) pada ibu menyusui bayi 0-6 bulan sebelum diberi seduhan daun kelor di Wilayah Kerja Puskesmas Sumur Batu, dengan mean 72,50 standar deviasi 25,317 standar eror 4,622, setelah diberi seduhan daun kelor mean 97,17 standar deviasi 17,601 standar eror 3,214. Hasil uji t-tes p-value 0.000 (<0.05).
ekstrakdaun kelor terhadap produksi ASI dan berat badan bayi. Hal tersebut dapat dijadikan acuan bahwa pemberian kukis ekstrak daun kelor dapat dijadikan makanan alternatif atau tambahan untuk meningkatkan produksi ASI dan berat badan bayi. Bidan dapat menyampaikan manfaat kukis ekstrak daun kelor tersebut
.
Tak hanya ibu hamil, manfaat daun kelor untuk ibu menyusui juga sudah lama dikenal di kalangan masyarakat. Beragam kandungan nutrisi di dalamnya diketahui dapat meningkatkan produksi ASI, sehingga baik untuk tumbuh kembang buah hati. Secara umum, ibu menyusui membutuhkan lebih banyak kalori untuk memenuhi asupan nutrisi harian dan memastikan produksi ASI tetap lancar. Untuk menambah asupan nutrisi tersebut, ibu menyusui disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat untuk ibu menyusui, seperti nasi merah, daging tanpa lemak, telur, kacang-kacangan, serta buah dan sayuran, termasuk daun kelor. Daun kelor Moringa oleifera diketahui mengandung beragam vitamin dan mineral, seperti vitamin A, vitamin B6, vitamin C, zat besi, dan magnesium. Tak hanya itu, daun kelor juga mengandung asam amino dan antioksidan yang dibutuhkan oleh ibu menyusui. Beragam Manfaat Daun Kelor untuk Ibu Menyusui Karena kandungan nutrisinya, manfaat daun kelor untuk ibu menyusui pun beragam, di antaranya 1. Melancarkan produksi ASI Daun kelor telah lama dikenal sebagai makanan pelancar ASI. Manfaat daun kelor untuk ibu menyusui ini berasal dari kandungan senyawa fitolesterol yang dapat merangsang dan melancarkan produksi ASI. Selain mengonsumsi daun kelor, Busui juga disarankan untuk lebih sering menyusui Si Kecil atau memompa ASI untuk memperlancar produksi ASI. 2. Meningkatkan daya tahan tubuh Saat merawat buah hati, terutama beberapa minggu pertama setelah dilahirkan, Busui mungkin sering terbangun di malam hari atau begadang untuk menyusui maupun mengganti popoknya. Perubahan rutinitas ini tentu memerlukan daya tahan tubuh yang lebih kuat agar Busui tidak mudah sakit dan lelah. Nah, agar daya tahan tubuh tetatp terjaga, Busui dapat mengonsumsi sayuran yang kaya akan vitamin C dan antioksidan, seperti daun kelor. Selain untuk meningkatkan imunitas, manfaat daun kelor untuk ibu menyusui juga dapat melindungi tubuh dari paparan radikal bebas. 3. Menjaga kesehatan tulang dan gigi Selama menyusui, Busui berisiko kehilangan kepadatan massa tulang dan terkena osteoporosis. Untuk mencegah terjadinya kondisi ini, Busui dapat mengonsumsi daun kelor yang kaya akan kandungan kalsium. Daun kelor juga diketahui baik untuk menjaga kesehatan gigi. 4. Memperbaiki jaringan tubuh yang rusak Kandungan vitamin C pada daun kelor dipercaya bermanfaat untuk ibu menyusui guna membantu proses penyembuhan luka akibat robekan di jalan lahir atau tindakan episiotomi. Selain itu, daun kelor juga dapat mencegah terjadinya keloid, terutama bagi ibu yang menjalani operasi caesar. 5. Mencegah anemia Ibu menyusui rentan terkena anemia karena kehilangan banyak darah saat proses persalinan atau kurangnya asupan zat besi harian. Kondisi ini dapat ditandai dengan tubuh mudah lelah, lemas, kulit pucat, dan bahkan sesak napas. Mengonsumsi sayuran kaya akan zat besi, seperti daun kelor dapat meningkatkan produksi sel darah merah dan dapat mencegah terjadinya anemia. Daun kelor juga kaya akan vitamin C yang dapat memaksimalkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Selain beragam manfaat daun kelor untuk ibu menyusui seperti di atas, daun kelor juga dipercaya bermanfaat bagi rahim. Meski konsumsi daun kelor menawarkan banyak manfaat untuk ibu menyusui, tetapi penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Oleh karena itu, Busui tetap disarankan untuk mengimbangi asupan nutrisi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, dan menghindari minuman berkafein atau bersoda. Jika Busui mengalami masalah, seperti produksi ASI yang sedikit atau ASI tidak lancar, jangan ragu konsultasikan ke dokter untuk mengetahui cara atau solusi yang tepat dalam mengatasinya.
ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Berdasarkan bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi bayi, ibu, keluarga dan negara, pedoman internasional merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. MWN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh pemberian daun kelor Moringa oleifera terhadap produksi ASI pada Ibu Menyusui 1-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Simpang Mamplam. Daun kelor memiliki fungsi untuk merangsang produksi ASI pada ibu menyusui karna mengandung senyawa fitosterol yang berfungsi untuk meningkatkan dan melancarkan produksi ASI. Banyak alternatif untuk meningkatkan produksi air susu ibu salah satunya dengan mengkonsumsi daun kelor. Penelitian dilakukan sejak tanggal 02 Mei - 24 September 2019. Jenis penelitian ini adalah quasy eksperimen, dengan rancangan penelitian pre and posttest control group design. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah ibu menyusui yang berada di wilayah kerja Puskesmas Simpang Mamplam yang berjumlah 30 orang. Analisa data menggunakan uji Mann Witney. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna perubahan produksi ASI dilihat dengan peningkatan berat badan bayi antara kelompok diberikan daun kelor dengan tidak diberikan daun kelor dengan nilai P= p>0,05, diharapkan kepada ibu menyusui agar mengkonsumsi daun kelor karena sangat bermanfaat untuk peningkatan produksi ASI dan juga meningkatnya kesehatan ibu akan mempengaruhi produksi ASI, keberhasilan ASI eksklusif didukung oleh banyak faktor salah satunya adalah vitalitas ibu dan produksi ASI Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Volume 1, Nomor 6 , Juni 2021 p-ISSN 2774-7018 ; e-ISSN 2774-700X EFEKTIVITAS DAUN KELOR TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS SIMPANG MAMPLAM BIREUEN Dahliana dan Maisura Akademi Kebidanan Darussalam Lhokseumawe E-mail dahliananana21073 dan maisura175 Diterima 16 Mei 2021 Direvisi 14 Juni 2021 Disetujui 15 Juni 2021 Abstrak ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Berdasarkan bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi bayi, ibu, keluarga dan negara, pedoman internasional merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. MWN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh pemberian daun kelor Moringa oleifera terhadap produksi ASI pada Ibu Menyusui 1-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Simpang Mamplam. Daun kelor memiliki fungsi untuk merangsang produksi ASI pada ibu menyusui karna mengandung senyawa fitosterol yang berfungsi untuk meningkatkan dan melancarkan produksi ASI. Banyak alternatif untuk meningkatkan produksi air susu ibu salah satunya dengan mengkonsumsi daun kelor. Penelitian dilakukan sejak tanggal 02 Mei - 24 September 2019. Jenis penelitian ini adalah quasy eksperimen, dengan rancangan penelitian pre and posttest control group design. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah ibu menyusui yang berada di wilayah kerja Puskesmas Simpang Mamplam yang berjumlah 30 orang. Analisa data menggunakan uji Mann Witney. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna perubahan produksi ASI dilihat dengan peningkatan berat badan bayi antara kelompok diberikan daun kelor dengan tidak diberikan daun kelor dengan nilai P= p>0,05, diharapkan kepada ibu menyusui agar mengkonsumsi daun kelor karena sangat bermanfaat untuk peningkatan produksi ASI dan juga meningkatnya kesehatan ibu akan mempengaruhi produksi ASI, keberhasilan ASI eksklusif didukung oleh banyak faktor salah satunya adalah vitalitas ibu dan produksi ASI. Kata Kunci Produksi Asi, Berat Badan Bayi, Daun Kelor, Ibu Menyusui. Abstract Breast milk can be given until the baby is 2 years old. Based on scientific evidence on the benefits of breastfeeding for babies, mothers, families and countries, international guidelines recommend exclusive breastfeeding for 6 months. MWN Research Objectives To determine the effect of giving Moringa Moringa oleifera leaves on breast milk production in breastfeeding mothers for 1-6 months in the work area of Simpang Mamplam Health Center. Moringa leaves have a function to stimulate milk production in nursing mothers because they contain phytosterol compounds that function to increase and expedite milk production. There are many alternatives to increase breast milk production, one of which is by consuming Moringa leaves. The study was conducted from May 02 to September 24, 2019. This type of research is a quasi-experimental study, with a pre and 545 Efektivitas Daun Kelor Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Menyusui di Puskesmas Simpang Mamplam Bireuen posttest control group design. The samples in this study were breastfeeding mothers who were in the work area of the Simpang Mamplam Health Center, totaling 30 people. Data analysis using Mann Witney test. The results of statistical tests showed that there was a significant difference in changes in breast milk production as seen by the increase in infant weight between groups given Moringa leaves and not given Moringa leaves with a P value = p> it is expected that breastfeeding mothers should consume Moringa leaves because it is very beneficial for increasing breast milk production and also increasing maternal health will affect breast milk production, the success of exclusive breastfeeding is supported by many factors, one of which is maternal vitality and milk production. Keywords Breast Milk Production, Baby Weight, Moringa Leaves, Breastfeeding Mother. Pendahuluan Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dianjurkan oleh pedoman internasional yang didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI baik bagi bayi, ibu, keluarga maupun negara. Menyusui adalah perilaku kesehatan multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi dari faktor sosial, demografi, biologi, pre/postnatal dan psikologi Kurniawan, 2013 Makanan pertama dan utama bagi bayi adalah air susu ibu ASI. Air susu ibu sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan bayi Arisman dalam Winly, Wenes, Malonda SH Nancy, Bolang, Alexasander Sl, Kopatow, 2012. Menurut Survei Nasional 2016, tingkat pemberian ASI eksklusif di kalangan wanita selama bulan pertama setelah melahirkan mencapai 66,2%, menunjukkan hasil yang memuaskan Chu, Sheu, Hsu, Liao, & Chien, 2019. Menyusui adalah tantangan, unik dalam dampaknya pada ibu dan bayi, ikatan mereka dan implikasi kesehatan di masa depan yang berdampak pada perilaku baik di masyarakat Singh, 2020. Periode emas dalam dua tahun pertama kehidupan anak dapat tercapai optimal apa bila ditunjang dengan asupan nutrisi tepat sejak lahir Mufida, Widyaningsih, & Maligan, 2015 Hanya saja beberapa permasalahan muncul pada kesehatan anak terkait ASI. Masalah kesehatan anak bayi merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan di Indonesia menurut Hidayat dalam Lestari, 2013. ASI merupakan satu-satunya makanan terbaik bagi bayi karena mempunyai komposisi gizi yang paling lengkap dan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi untuk bertahan hidup pada 6 bulan pertama, meliputi hormon, antibodi, faktor kekebalan sampai antioksidan Kemenkes, 2014 Manfaat ASI sangat besar tetapi tidak semua ibu mau menyusui bayinya karena berbagai alasan, misalnya takut gemuk, sibuk, payudara kendur, ASI tidak mau keluar atau produksinya berkurang. Dampak jika tidak memberikan ASI ekslusif kepada bayi adalah rentan mengalami kekurangan nutrisi, rentan mengalami penyakit infeksi seperti diare, infeksi telinga, Asma, ISPA Infeksi Saluran Pernafasan Akut, pneumonia, obesitas, dan resiko kematian lebih tinggi daripada bayi yang diberikan ASI Ekslusif Mulyani, 2013. Banyak faktor penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif, salah satu Dahliana dan maisura 546 Volume 1, Nomor 6 , Juni 2021 p-ISSN 2774-7018 ; e-ISSN 2774-700X diantaranya adalah asupan gizi yang rendah dan ibu menyusui merasa jumlah ASI yang diproduksi tidak cukup untuk memenuhi permintaan bayi. Asupan makanan ibu menyusui ikut menentukan kualitas ASI-nya. ASI banyak mengandung banyak zat besi. Zat besi yang ada pada ASI diserap bayi 100% berbeda dengan zat besi yang terkadung dalam susu kalengan sehingga ibu perlu menambahkan asupan zat besi agar produksi ASI bertambah Fatimah, 2014. Tanaman kelor sangat bagus untuk ibu yang sedang menyusui, kebutuhan gizi ibu meningkat karena kebutuhan untuk memproduksi ASI. Banyak alternatif untuk meningkatkan produksi ASI salah satunya dengan mengkonsumsi daun kelor. Mengonsumsi daun kelor diyakini dapat meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Senyawa-senyawa alami di dalam daun mungil ini berkhasiat untuk mendorong sekresi hormon yang memerintah produksi susu dalam kelenjar payudara Herimansyah, 2014. Tanaman Kelor termasuk salah satu jenis tanaman obat yang merupakan tanaman asli dari India, kemudian menyebar ke daerah sekitarnya ke benua Afrika dan Asia. Tanaman kelor ini bisa tumbuh dari dataran tinggi maupun dataran rendah. 14 Daun kelor dapat dipanen setelah tanaman tumbuh 1,5 sampai 2 meter, biasanya 3 sampai 6 bulan. Hampir semua bagian dari tanaman kelor bermanfaat bagi kehidupan manusia dan berkhasiat sebagai obat Kurniasih, 2014. Berbagai penelitian telah mengkaji manfaat pemberian Air Susu Ibu ASI eksklusif dalam hal menurunkan mortalitas bayi, menurunkan morbiditas bayi, mengoptimalkan pertumbuhan bayi, membantu perkembangan kecerdasan anak, dan membantu memperpanjang jarak kehamilan bagi ibu Fikawati & Syafiq, 2011. Daun kelor di indonesia meliki fungsi untuk merangngsang produksi ASI pada ibu yang sedang menyusi sehingga membuat ibu hamil tidak sampai kekurangan ASI Warta, 2017. Menurut WHO tahun 2017 masih menunjukkan rata-rata angka pemberian ASI eksklusif di dunia baru berkisar 38%. Berdasarkan data yang diperoleh dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2017 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama sebanyak 54% cakupan ini menurun bila dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 55,7% dan tahun 2014 sebesar 55,9% Kemenkes, 2017. Berdasarkan Pantauan Status Gizi PSG 2017 yang dilakukan kementerian kesehatan, bayi usia dibawah lima tahun yang mengalami masalah gizi mencapai 17,8% sama dengan tahun sebelumnya. Jumlah tersebut terdiri dari balita yang mengalami gizi buruk 3,8% dan 14% gizi kurang Kemenkes, 2017 Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Bireuen tahun 2018 diketahui bahwa di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Mamplam pada bulan Desember Tahun 2018 jumlah bayi usia 0-6 bulan sebanyak 537 jiwa dengan cakupan pemberian ASI ekslusifnya sebesar 30% yaitu 159 jiwa masih kurang dari target pemberian ASI ekslusif kabupaten yaitu sebesar 80%. Laporan Data Gizi Puskesmas Simpang Mamplam Tahun 2018 terdapat 158 gizi kurang dan 1 gizi buruk Pelatihan yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Aceh tahun 2018 di Banda Aceh tentang kegunaan dan manfaat daun kelor untuk penambahan Sel Darah Merah HB dan dapat meningkatkan produksi ASI, Daun kelor bukan tanaman asing, banyak tumbuh di masyarakat umum dan daun kelor juga merupakan salah satu Inovasi Puskesmas Simpang Mamplam tentang TOGA yang harus ditanam di seluruh rumah masyarakat Simpang Mamplam. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang “Efektivitas Pemberian Daun Kelor Moringa oleifera Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Menyusui 1-6 Bulan Di wilayah kerja Puskesmas Simpang Mamplam Bireuen Tahun 547 Efektivitas Daun Kelor Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Menyusui di Puskesmas Simpang Mamplam Bireuen 2020” Manfaat dari penelitian ini untuk mencari tahu tentang keefektifan daun kelor untuk ibu menyusui. Berdasarkan informasi yang beredar daun kelor banyak manfaatnya untuk ibu menyusui, maka dari itu penulis ingin mengetahui kebenaran manfaat daun kelor. Penelitian terdahulu tentang daun kelor pernah dilakukan oleh Harsana, Baiquni, Harmayani, & Widyaningsih, 2019 dengan judul ”Potensi Minuman Daun Kelor Terhadap Peningkatan Produksi Air Susu Ibu ASI pada Ibu Postpartum” penelitian terdahulu menyatakan bahwasanya daun kelor memiliki banyak manfaat yang bisa diambil untuk meningkatkan ASI pada ibu hamil. Hal tersebut juga relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Metode Penelitian Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang artinya berisi tentang penjelasan deskripsi. Desain Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu atau quasy eksperimen, dengan rancangan penelitian pre and posttest control group design. Rancangan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian daun kelor terhadap produksi ASI ibu menyusui 1-6 bulan. Pada rancangan ini kelompok dibagi menjadi group control dan group eksperimen Hasil dan Pembahasan TABEL I Distribusi Frekuensi Produksi Asi Pada Kelompok Yang Diberikan Daun Kelor Kelompok Intervensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Mamplam Tahun 2020 Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa rata-rata produksi ASI pada kelompok intervensi 4,40, hal ini menunjukkan bahwa daun kelor berpengaruh pada bertambahnya produksi ASI. Dahliana dan maisura 548 Volume 1, Nomor 6 , Juni 2021 p-ISSN 2774-7018 ; e-ISSN 2774-700X TABEL 2 Distribusi Frekuensi Produksi Asi Pada Kelompok Yang Tidak Diberikan Daun Kelor Kelompok Kontrol di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Mamplam Tahun 2020 Berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa didapatkan bahwa rata-rata produksi ASI pada kelompok Kontrol 3,89 Bagi yang tidak mengkonsumsi daun kelor maka tidak ada peningkatan ASI. TABEL 3 Distribusi Frekuensi Perbedaan Produksi Asi Pada Kelompok Yang Diberikan Daun Kelor Kelompok Intervensi Dengan Kelompok Yang Tidak Diberikan Daun Kelor Kelompok Kontrol Di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Mamplam Tahun 2020 Berdasarkan table 3 didapatkan bahwa rata-rata perbedaan produksi ASI pada kelompok intervensi 0,58 dan kelompok Kontrol 0,32. Pada kolom intervensi skor pengeluaran ASI antara kelompok kasus dan kontrol cenderung berbeda, yaitu sebesar 0,26. Setelah dilakukan uji Mann Witney menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dengan nilai P= p<0,05 549 Efektivitas Daun Kelor Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Menyusui di Puskesmas Simpang Mamplam Bireuen a. Rata-Rata Hasil Akhir Produksi ASI pada Kelompok yang diberikan Daun Kelor kelompok Intervensi Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa rata-rata produksi ASI pada kelompok intervensi 4,40. Hal ini menunjukkan bahwa sangat besar pengaruh pemberian daun kelor kepada ibu menyusui untuk meningkatkan produksi ASI. Pemberian daun kelor kepada ibu menyususi akan meningkatkan produksi ASI juga sekaligus memperlancar produksi ASI karena daun kelor mengandung zat yang dapat meningkatakan produksi ASI. Selain itu, ibu yang sering menyusui bayinya dengan teknik yang baik dan benar juga mempengaruhi rangsangan produksi ASI, juga keadaan psikologis ibu sangat mempengaruhi kelancaran produksi ASI,ibu tidak boleh memiliki beban pikiran atau stres karena itu salah satu yang dapat memperhambat pengeluaran produksi ASI. Ibu harus rileks dan terbebas dari semua beban selain dari mengkonsumsi daun kelor dengan rutin. b. Rata-Rata Hasil Akhir Produksi ASI pada Kelompok yang tidak diberikan Daun Kelor Kelompok Kontrol Berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa rata-rata produksi ASI pada kelompok Kontrol 3,57 . Hal ini menunjukkan tidak ada pengaruh peningkatan produksi ASI pada kelompok yang tidak diberikan daun kelor. Daun kelor merupakan salah satu yang dapat meningkatkan produksi ASI selain Tehik menyusui, dan psikologis ibu. Dengan rutin mengkonsumsi daun kelor dapat mengalami peningkatan Produksi ASI karena daun kelor merupakan salah satu tanaman yang bisa dikonsumsi untuk menambah produksi ASI pada ibu menyusui. Hasil analisis kandungan sitosterol dan stigmasterol dalam daun menunjukkan bahwa kandungan stigmasterol lebih banyak dibandingkan sitoterol. Adanya kandungan steroid dalam daun kelor diduga ada hubungannya dengan pengaruh peningkatan kadar ASI bagi ibu yang mengkonsumsinya. c. Perbedaan rata rata produksi ASI pada kelompok yang diberikan daun kelor kelompok intervensi dengan kelompok yang tidak diberikan daun kelor kelompok kontrol. Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa rata-rata perbedaan produksi ASI pada kelompok intervensi 0,58 dan kelompok Kontrol 0,32. Pada kolom rerata selisih produksi ASI antara kelompok kasus dan kontrol cenderung berbeda, yaitu sebesar 0,26. Setelah dilakukan uji Mann Witney menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan kelompok diberikan daun kelor dengan kelompok ynag tidak diberikan daun kelor antara dengan nilai P= p<0,05 Adanya perbedaan produksi ASI pada kedua kelompok disebabkan karena pemberian daun kelor untuk meningkatkan produktivitas ASI sehingga dapat meningkat berat badan bayi dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberikan daun kelor. Selain itu, frekuensi dan cara ibu menyusui bayinya juga dapat mempengaruhi peningkatan berat badan bayi. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan yang dijelaskan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa produksi ASI pada kelompok Intervensi meningkat dan terjadi peningkatan bermakna sejak mulai dilakukan intervensi sampai intervensi berakhir yaitu selama empat minggu, produksi ASI pada kelompok kontrol terjadi peningkatan tapi tidak bermakna selama empat minggu dilakukan kontrol, Ada perbedaan produksi ASI pada kelompok intervensi dan pada kelompok kontak. Dahliana dan maisura 550 Volume 1, Nomor 6, Juni 2021 p-ISSN 2774-5147 ; e-ISSN 2774-5155 Bibliography Chu, Kuei Hui, Sheu, Shuh Jen, Hsu, Mei Hwa, Liao, Jillian, & Chien, Li Yin. 2019. Breastfeeding Experiences of Taiwanese Mothers of Infants with Breastfeeding or Breast Milk Jaundice in Certified Baby-Friendly Hospitals. Asian Nursing Research, 132, 154–160. Fatimah, Natalini Nova dan Sitti. 2014. Sitti Fatimah 2014 Pemanfaatan Tanaman Kelor Moringa Oleifera untuk Meningkatkan Produksi ASI. Jakarta WPPTI. Jakarta WPPTI. Fikawati, Sandra, & Syafiq, Ahmad. 2011. Study on Policy and Implementation of Exclusive and Early Initiation of Breastfeeding in Indonesia. Makara Journal of Health Research, 141, 17–24. Harsana, Minta, Baiquni, Muhammad, Harmayani, Eni, & Widyaningsih, Yulia Arisnani. 2019. Potensi Makanan Tradisional Kue Kolombeng Sebagai Daya Tarik Wisata Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Home Economics Journal, 22, 40–47. Herimansyah. 2014. Ekstrak Daun Kelor Terhadap Peningkatan Asupan Berat Badan Ibu Hamil Pekerja Sektor Informal. Makassar Universitas Hasanddin. Kemenkes. 2014. Situasi dan Analisis ASI Eksklusif. Jakarta Infodatin. Kemenkes. 2017. Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta Kemenkes RI. Kurniasih. 2014. Khasiat dan Manfaat Daun. Kelor. Yogyakarta Baru Press. Kurniawan, Bayu. 2013. Determinan Keberhasilan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 274, 236–240. Lestari. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Air Susu Ibu dan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Fajar Bulan. Medical Journal of Lampung University, 24, 10–13. Mufida, Lailina, Widyaningsih, Tri Dewanti, & Maligan, Jaya Mahar. 2015. Prinsip Dasar Makanan Pendamping Air Susu Ibu MP-ASI untuk Bayi 6-24 Bulan Kajian Pustaka. Jurnal Pangan Dan Argoindustri, 34, 6. Mulyani. 2013. Imunisasi Untuk Anak. Yogyakarta Nuha Medika. Singh, Manisha. 2020. Breastfeeding and Medication Use in Kidney Disease. Advances in Chronic Kidney Disease, 276, 516–524. Warta, Penelitian. 2017. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Volume 20 Nomor 3 2017 Di akses pada tanggal 15 Desember 2017. Retrieved from Winly, Wenes, Malonda SH Nancy, Bolang, Alexasander Sl, Kopatow, Nova H. 2012. Hubungan Antara pengetahuan dan Sikap Ibu meyusui dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja puskesmas Tompaso Kecamatan Tompaso. Bidang Minat Gizi Universitas Sam Ratulangi Manado. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike International License 551 ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication. Manisha SinghPregnancy in chronic kidney disease is a condition fraught with challenges including multiple medications, high risk pregnancy followed by maternal and fetal compromise such as preterm delivery and low birth weight infant. Breastfeeding is unique in its impact on the mother and the baby, their bonding and future health implications impacting the society. Breastmilk is produced specific for the infant by the biological mother. It changes in composition with lactation stage, and leads to optimal growth of the baby including establishing circadian rhythms, getting protective antibodies and establishing a healthy gut microbiome. Multiple hormones influence the composition of the milk. Lactation is maintained by removal of the milk. Blood-milk barrier allows for the specific composition of milk by transporting different sized molecules through different mechanisms. It is safe to assume that most medications will be found in some amount in human milk, however, the impact of that is usually not enough to justify stopping breastfeeding. When mothers milk is not available, formula or donor milk can be considered. There are resources to guide the use of medications during lactation that the providers should be aware of and use, to guide medication and breastfeeding industri pariwisata dapat memberikan peluang bagi berkembangnya produk-produk wisata, termasuk kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tingginya perkembangan industri pariwisata, memberikan peluang yang sangat besar bagi masyarakatnya, untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan pariwisata, khususnya wisata kuliner yang saat ini masih sangat terbatas jumlahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makanan tradisional sebagai Daya Tarik Wisata Kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan menggunakan teori Daya tarik Wisata dari Damanik dan Weber, keunikan, originalitas, otentisitas, dan keragaman.Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa makanan tradisional Kue Kolombeng merupakan suatu produk yang berdaya tarik wisata. Daya tarik wisata pada Makanan Tradisional Kolombeng adalah karena makanan Tradisional ini memiliki keunikan, originalitas, otentisitas, dan keragaman. Keunikan dapat dilihat dari adanya kombinasi kelangkaan dan kekhasan yang melekat pada makanan tradisional Kue Kolombeng. Originalitas makanan tradisional tergambar dari keaslian bahan makanan tradisional dengan tetap mempertahankan bahan baku lokal asli dan proses dengan ,juga menggambarkan otentisitasnya, keragaman mengarah pada variasi bentuk dan The purpose was to explore the breastfeeding experiences of mothers of infants with breastfeeding or breast milk jaundice. Methods In-depth qualitative interviews and content analysis were conducted with nine mothers of newborns with breastfeeding and/or breast milk jaundice who breastfed their babies during the first year postpartum. Results Mothers' experiences can be described in four phases and six themes. 1 Prenatal stage build breastfeeding belief, breastfeeding is best and a natural behavior, without awareness of neonatal jaundice; 2 stage after neonatal jaundice started to appear include two themes, questioning beliefs in breastfeeding and happiness in being a mother. Mothers lacked knowledge and ignored the threat of neonatal jaundice, mainly focused on their physical discomforts and worried about insufficient breast milk; they also felt an intimate mother-infant bond through breastfeeding; 3 stage when newborns had confirmed diagnosis of breastfeeding or breast milk jaundice that required medical attention include two themes, diagnosis of breastfeeding or breast milk jaundice and phototherapy caused negative emotions and regaining original beliefs about breastfeeding. They struggled through emotional swings and inconsistent advices about whether phototherapy and formula supplementation are needed. Then, they decided breastfeeding or breast milk jaundice is only temporary and retrieved initial beliefs of breastfeeding. 4 Stage after neonatal jaundice faded and mothers continued breastfeeding insisting and adapting. Conclusion Breastfeeding mothers were unaware of neonatal jaundice until medical attention was required; they experienced physical and mental distress and gradually learned to manage jaundice while insisting on breastfeeding through their breastfeeding beliefs and happiness in being on Policy and Implementation of Exclusive and Early Initiation of Breastfeeding in Indonesia. In Indonesia, the Ministry of Health has set an Exclusive Breast Feeding [EBF] target of 80%, which is considered as unrealistic, especially where the current trend of EBF is showing a decline. The aim of this paper is to review the implementation and the policy of EBF and Early Initiation of breastfeeding EI in Indonesia based on existing studies. The policy, as stated in Kepmenkes No. 237/1997, PP No. 69/1999, and Kepmenkes No. 450/2004, was analysed using content, context, process and actor models, and triangulated by an advocacy coalition framework. Review on implementation shows that EBF practice in Indonesia is still very low and midwives have not been facilitating EI optimally. Policies on EBF are not complete and not comprehensive. EI has not been included explicitly and several aspects of policy content should have been updated. The advocacy coalition framework analysis confirms the findings of earlier analysis by emphasizing weaknesses in the external system as well as policy sub-system in the development of EBF policy. It is suggested to update and renew the existing EBF policy as to be more relevant in terms of content, context, process, and actor. An EBF policy should always include an Early Initiation component. The new policy should also include sanction, reward, and monitoring and evaluation to strengthen the implementation of the policy in community. Keywords early initiation, exclusive breastfeeding, policy Bayu KurniawanPemberian ASI eksklusif secara nasional pada tahun 2010-2012 hanya 33,6-35%. Menyusui adalah perilaku kesehatan multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi dari faktor sosial, demografi, biologi, pre/postnatal, dan psikologi. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor determinan pemberian ASI eksklusif. Cross sectional retrospective study dilakukan di Instalasi Rawat Jalan dan Rawat Inap RS Muhammadiyah Lamongan pada Januari-Maret 2013. Sebanyak 150 ibu dari anak berusia 6-24 bulan dilibatkan sebagai sampel penelitian yang diambil dengan metode purposive quota sampling. Kuesioner digunakan sebagai instrumen penelitian untuk mengevaluasi faktor sosiodemografik, pre/postnatal, dan psikososial terhadap keberhasilan ibu memberikan ASI eksklusif dengan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan angka ASI eksklusif sebesar 35,3% dengan masa pemberian terbanyak sampai usia 4 bulan. Permasalahan menyusui rs=0,249, p=0,002 dan kunjungan ke klinik laktasi, keinginan rs=0,306, p=0,000, keyakinan rs=0,306, p=0,000, dan persepsi ibu tentang kepuasan bayi saat menyusu rs=0,263, p=0,001, dukungan suami rs=0,318, p=0,000 dan orang tua rs=0,290, p=0,000 mendorong keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Usia tua rs=-0,196, p=0,016, ibu bekerja rs=-0,170, p=0,038, pemberian susu formula di instansi pelayanan kesehatanrs=-0,335, p=0,000, MPASI dini pada bayi usia <6 bulan rs=-0,710, p=0,000, dan pemakaian empeng pacifier rs=-0,189, p=0,020 menjadi faktor yang menghalangi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pemberian MPASI dini merupakan faktor determinan negative yang paling kuat, sedangkan keyakinan dan persepsi ibu yang kuat tentang menyusui merupkan faktor determinan positif yang paling Kata Kunci ASI eksklusif, pre/post natal, psikososial, sosiodemografiSitti Fatimah 2014 Pemanfaatan Tanaman Kelor Moringa Oleifera untuk Meningkatkan Produksi ASINatalini FatimahNova DanSittiFatimah, Natalini Nova dan Sitti. 2014. Sitti Fatimah 2014 Pemanfaatan Tanaman Kelor Moringa Oleifera untuk Meningkatkan Produksi ASI. Jakarta WPPTI. Jakarta Daun Kelor Terhadap Peningkatan Asupan Berat Badan Ibu Hamil Pekerja Sektor InformalHerimansyahHerimansyah. 2014. Ekstrak Daun Kelor Terhadap Peningkatan Asupan Berat Badan Ibu Hamil Pekerja Sektor Informal. Makassar Universitas Kesehatan IndonesiaKemenkesKemenkes. 2014. Situasi dan Analisis ASI Eksklusif. Jakarta Infodatin. Kemenkes. 2017. Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta Kemenkes RI. Kurniasih. 2014. Khasiat dan Manfaat Daun. Kelor. Yogyakarta Baru Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Air Susu Ibu dan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Fajar BulanLestariLestari. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Air Susu Ibu dan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Fajar Bulan. Medical Journal of Lampung University, 24, MufidaTri WidyaningsihDewantiJaya MaliganMaharMufida, Lailina, Widyaningsih, Tri Dewanti, & Maligan, Jaya Mahar. 2015. Prinsip Dasar Makanan Pendamping Air Susu Ibu MP-ASI untuk Bayi 6-24 Bulan Kajian Pustaka. Jurnal Pangan Dan Argoindustri, 34, 6. Mulyani. 2013. Imunisasi Untuk Anak. Yogyakarta Nuha Medika.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KELOR PADA IBU MENYUSUI EKSKLUSIF TERHADAP KENAIKAN BERAT BAYI 0 – 5 BULAN Ratna Dewi Putri* - Diploma IV Kebidanan Universitas Malahayati, Indonesia Fitria Fitria - DIII kebidanan universitas malahayati, Indonesia Abstract References Licensing How to cite Latar Belakang Kebutuhan gizi ibu menyusui meningkat dibandingkan dengan tidak menyusui dan masa kehaABSTRACT THE EFFECT OF MORINGA LEAVES EXTRACT ON EXCLUSIVE BREASTFEEDING MOTHER ON INFANT WEIGHT INCREASE IN 0 - 5 MONTHSBackground The nutritional needs of breastfeeding mothers are increased compared to non-breastfeeding and during pregnancy. Efforts to achieve optimal infant nutrition until they reach six months of age can only be done through improving maternal nutrition. This illustrates that the food consumed by breastfeeding mothers greatly affects the production of breast milk. Moringa leaves are a food ingredient that has a lactogenic effect because they contain phytosterols. National exclusive breastfeeding coverage has only reached while exclusive breastfeeding coverage in Lampung province is Indonesian Ministry of Health 2018. Even though it has exceeded the national coverage, it is still low compared to the target target of 80%. Meanwhile, in Bandar Lampung City, in 2018, exclusive breastfeeding coverage was PWS KIA, Kebun Ginger Health Center, Bandar Lampung City, showed that from January to July 2019 there were 12,72% babies under 6 months did not get optimal weight To determine the effect of Moringa leaf extract on exclusive breastfeeding mothers on weight gain of infants 0-5 months at the Kebon Jahe Community Health Center in Bandar Lampung in 2020 Method Quantitative research with a two group pretest-posttest design research method. The population was exclusively breastfeeding mothers, a sample of 32 mothers was divided into two groups. 16 breastfeeding mothers were given Moringa leaf extract and 16 breastfeeding mothers were given placebo, using purposive sampling technique. Data analysis was performed using statistical tests using independent t test and paired T test. Results The average body weight in the group given Moringa leaves increased from 5012 grams to grams, while the group given katuk leaf extract increased from 4962 grams to grams. The results of the independent T test obtained a p-value of p value> this means that statistically there is no difference in the two groups. Pairwise difference test results obtained p-value pvalue 0,05 hal ini bermakna bahwa secara statistik tidak ada perbedaan pada kedua kelompok. Hasil uji beda berpasangan diperoleh hasil pvalue 0,000 pvalue 0,05 hal ini bermakna bahwa secara statistik tidak ada perbedaan pada kedua kelompok. Hasil uji beda berpasangan diperoleh hasil pvalue 0,000 pvalue < 0,05 Kesimpulan tidak ada perbedaan pengaruh pemberian ekstrak daun kelor dan daun katuk placebo terhadap kenaikan berat badan bayi. Ada perbedaan berat badan sebelum dan sesudah pemberian ekstrak daun kelor dan placebo. Daun kelor memiliki efektifitas yang sama dalam meningkatkan berat badan bayi. Keywords daun kelor, asi Amalia, R. 2016. Hubungan Sters Dengan Kelancaran ASI Pada Ibu Menyusui Pasca Persalinan di RSI A. Yani Surabaya. Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 8, No. 1, Februari 2016 12-16 Asih, Y. Risneni. 2016. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Dan Menyusui. Jakarta Trans Info Media. Dewi, Pujiastuti, N., Fajar, I. 2013. Ilmu Gizi untuk Praktisi Kesehatan. Yogyakarta Graha Ilmu. Hal 30-35 Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. 2018. Profil Kesehatan Provinsi Lampung. pemerintah Provinsi Lampung Kemenkes RI . dan Infomasi profil Kesehatan Indonesia tahun 2018. Kementrian Kesehatan RI Kemenkes Pedoman Pekan ASI Sedunia PAS tahun 2018. Kementrian Kesehatan RI Kemenkes RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Kementrian Kesehatan RI Direktorat Bina Gizi Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi penelitian kesehatan. Pusdatin Kemenkes RI .2014. Situasi dan Analisis ASI eksklusif. Kementrian Kesehatan RI Septadina, I. S., Murti, K., & Utari, N. 2018. Efek Pemberian Ekstrak Daun Kelor Moringa oleifera dalam Proses Menyusui. Sriwijya Journal of Medicine, 1 1, Januari 2018, 74, 79. Setiawandari, Istiqomah 2017. EFEKTIFITAS EKSTRAK SAUROPUS ANDROGYNUS DAUN KATUK DAN EKSTRAK MORINGA OLEIFERA LAMK DAUN KELOR TERHADAP PROSES PERSALINAN, PRODUKSI KOLOSTRUMDAN PROSES INVOLUSI UTERI IBU POSTPARTUM. Embryo Jurnal Kebidanan, IX 1 November 2017,16,23 petunjuk untuk tenaga kesehatan. Jakarta EGC Supranto, J. 2007. Teknik sampling survey & eksperimen. Rineka Cipta, Jakarta, 33-41 Sulastri, W. 2016. Hubungan Tingkat Kecemasan Ibu Dengan Pemberian ASI Pada Masa Nifas Di Puskesmas Umbulhardjo 1 Yogyakarta Tahun 2016. Jurnal Imiah Tingkat Kecemasan Dengan Pemberian ASI. 2016 1-8 Victora, C. G., Bahl, R., Barros, A. J., França, G. V., Horton, S., Krasevec, J., ... & Group, T. L. B. S. 2016. Breastfeeding in the 21st century epidemiology, mechanisms, and lifelong effect. The Lancet, 38710017, 475-490 Warta Puslitbang Perkebunan Puslitbangbun Vol. 20 No. 3, 2014. Pemanfaatan tanaman Kelor Moringa oleifera Untuk Meningkatkan Produksi Air Susu Ibu. Widowati, L., Isnawati, A., Alegantina, S., & Retiaty, F. 2019. Potensi ramuan ekstrak biji klabet dan daun kelor sebagai laktagogum dengan nilai gizi tinggi. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 292, 143-152. Zakaria, Z., Hadju, V., As' ad, S., & Bahar, B. 2016. PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KELOR TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS AIR SUSU IBU ASI PADAIBU MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 123, 161-169. . Copyright c 2021 Jurnal Kebidanan Malahayati
Abstract ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Berdasarkan bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi bayi, ibu, keluarga dan negara, pedoman Internasional merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. MWN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh pemberian daun kelor Moringa oleifera terhadap produksi ASI pada Ibu Menyusui 1-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Simpang Mamplam. Daun kelor memiliki fungsi untuk merangsang produksi ASI pada ibu menyusui karna mengandung senyawa fitosterol yang berfungsi untuk meningkatkan dan melancarkan produksi ASI. Banyak alternatif untuk meningkatkan produksi air susu ibu salah satunya dengan mengkonsumsi daun kelor. Penelitian dilakukan sejak tanggal 02 Mei - 24 September 2019. Jenis penelitian ini adalah quasy eksperimen, dengan rancangan penelitian pre and posttest control group design. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah ibu menyusui yang berada di wilayah kerja Puskesmas Simpang Mamplam yang berjumlah 30 orang. Analisa data menggunakan uji Mann Witney. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna Perubahan produksi ASI dilihat dengan peningkatan berat badan bayi antara kelompok diberikan daun kelor dengan tidak diberikan daun kelor dengan nilai P= p>0,05, diharapkan kepada ibu menyusui agar mengkonsumsi daun kelor karena sangat bermanfaat untuk peningkatan produksi ASI dan juga meningkatnya kesehatan ibu akan mempengaruhi produksi ASI, keberhasilan ASI eksklusif didukung oleh banyak faktor salah satunya adalah vitalitas ibu dan produksi ASI
jurnal daun kelor untuk asi